Pendidikan Ramah Otak

Otak manusia pada dasarnya terbagi menjadi tiga bidang spesialisasi yang saling berhubungan. Pertama, Otak reptil yang terletak pada rongga kepala bagian dasar, muncul dari tulang punggung, elemen otak ini juga ada pada kadal, buaya dan burung, karena itu dinamakan otak reptil. Bagian otak ini mengontrol fungsi dasar seperti pernafasan, detak jantung, dan insting primitif berupa respon bertahan hidup “lawan atau lari ketika bahaya mengancam.

Kedua, Sistem limbik. Bagian otak tengah yang juga ada pada hewan mamalia. Sistem limbik berfungsi mengendalikan emosi, hormon, rasa haus, rasa lapar, seksualitas, pusat-pusat rasa senang, metabolisme, fungsi kekebalan, dan bagian penting dalam memori jangka panjang. Bagian otak ini juga bekerja seperti saklar yang menghubungkan informasi yang masuk untuk diteruskan ke Neokorteks (otak berpikir tingkat tinggi) atau bergerak turun ke insting primitif (otak reptil).

Ketiga, Neokorteks (otak berpikir). Bagian otak inilah yang membuat manusia menjadi sebenar-benarnya manusia, dan menjadi mahluk yang unik. Bagian ini berhubungan dengan berpikir tingkat tinggi seperti merencanakan masa depan, memecahkan masalah, berbahasa, kendali motorik, berpikir abstrak dan kreatif serta intuisi.

Pare-Dise pelopor pendidikan ramah otak with fun learning sistem

Pare-Dise pelopor pendidikan ramah otak with fun learning sistem

Mayoritas model pendidikan di Indonesia cenderung berkutat pada otak reptil. Belajar hanya sebatas menghafal. Belajar dikatakan sukses ketika siswa mampu memindahkan kata-kata guru dan buku sama persis. Lengkap dengan titik komanya. Guru adalah pusat kekuasaan. Sedangkan siswa sebagai pelayan yang patuh dan pasif. Spirit reptil dibangun atas dasar mempertahankan diri (takut berbuat salah), tanpa perhatian pada perasaan, serta ikatan sosial di lingkungan pendidikan. Siswa tidak dididik untuk berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan berpikir sendiri. Pemikiran nyeleneh, non familiar, atau unik dianggap sebagai suatu pembangkangan.

Bagaimana pendidikan yang ramah otak?

Pembelajaran yang baik harus menggunakan keseluruhan diri kita (Otak, Tubuh, emosi dan semua indra). Istilah kerennya Holistic Learning, demikianlah yang dilakukan lembaga Pare-Dise dalam mengembangkan metode belajar Fun Learning System. Mengulang materi pembelajaran secara konsisten dengan praktek dalam keseharian sangat baik untuk menguatkan daya ingat dan meningkatkan skill. Tentu ini saja tidak cukup, melibatkan emosi yang kuat dalam pembelajaran dengan memberi motivasi dan mendidik dengan penuh cinta kasih. Pembelajaran yang penuh dengan perasaan positif akan menstimulus system limbic untuk meneruskan informasi ke tingkat yang lebih tinggi (neokorteks). Suasana belajar didesain sedemikian rupa dengan tujuan agar siswa terhindar dari perasaan negative yang berisi ketegangan, marah-marah, kecemasan, takut, stres dan depresi karena tekanan materi belajar.

Kompetisi individu yang berlebihan bukanlah sesuatu yang baik, lembaga Pare-Dise melakukan pendekatan personal untuk mendorong siswa bekerjasama bukan bersaing. Kerja sama memposisikan siswa sebagai pembelajar sekaligus pengajar. Dengan bekerja sama, siswa bisa mengoptimalkan daya otak keseluruhan serta meningkatkan kuantitas dan kualitas belajar. Kecerdasan sosial dalam sistem limbik akan terpantik dengan bekerja sama. Kompetensi abad 21 bukanlah kemampuan bekerja sendiri melainkan membangun kerjasama (link).

Lembaga Pare-Dise menghindari pembelajaran yang memposisikan siswa harus duduk diam berjam-jam. Selain menyiksa, membuat ngantuk, pembelajaran pasif juga tidak ramah otak. Gerakan fisik membuat sirkulasi darah ke seluruh tubuh termasuk otak dapat berjalan lancar. Merangsang keluarnya zat-zat kimia yang penting bagi kontruksi jaringan saraf di otak.

Kami mengajak member PD (sebutan untuk peserta kursus dilembaga Pare-Dise) untuk beranjak dari tempat duduknya. Lembaga Pare-Dise adalah pelopor di Kampung Inggris dalam pembelajaran dengan strategi yang happy, mendorong kreativitas serta menggerakan fisik siswa. Para peneliti otak modern menemukan bahwa berpikir dan system motorik tubuh berkaitan erat dalam otak. Bagian Neokorteks yang mengatur pikiran dan pemecahan masalah berada tepat disamping bagian neokorteks yang mengontrol pergerakan diseluruh tubuh. Pikiran dan tubuh diikat menjadi satu oleh system syaraf dan system peredaran darah. Jika tubuh bergerak, otak akan beranjak.

Perihal

Kampung Inggris Pare-Dise

Tagged with:
Ditulis dalam Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: